Sekolah Baru
Assalamualaikum Wr. Wb.
Aduh, sebelumnya mohon maaf, tapi saya memang sedang sibuk akhir-akhir ini, jadi baru sempat meng-update blog semata wayang ini jauh dari tenggat waktu yang saya janjikan. Sebenarnya saya sendiri tidak begitu pandai dalam memperkenalkan diri, namun kita tak akan tahu hasilnya jika kita tidak mencobanya. Jujur ini pertama kalinya saya menggunakan sarana blog untuk hal itu, tapi saya harap dengan yang saya tuliskan kali ini, mampu menggenapkan perkenalan diri dan lingkungan saya pada sobat Ge-no.
Dan seperti yang telah saya sampaikan beberapa waktu yang lalu, di sinilah saya akan berbagi banyak hal tentang siapa saya, seperti apa lingkungan di sini, apa saja yang telah saya alami selama ini, yang saya harapkan bisa menjadi catatan pemikiran saya, seperti yang tercantum pada nama blog ini, Gedanken-note. Di mana nantinya yang saya tuliskan di sini akan saya manfaatkan lebih dalam lagi saat saya besar kelak. Aamiin.
Kembali ke topik utama, hari ini saya akan membahas mulai dari hari pindahan, juga pengalaman selama belajar di SMP N 7 Semarang, yang menjadi tempat saya bernaung saat ini, hingga Ujian Nasional menjemput (berlebihan). Dan pos ini masih berkaitan dengan pos sebelumnya yang berjudul "My School". Karena kegiatan di sekolah yang semakin intensif dan UN yang semakin dekat, pos ini akan saya pecah menjadi beberapa sesi. Inilah cerita saya, silahkan menikmati.
Juli 2014, Surakarta
"Libur tlah tiba !" seperti kata Sherina di filmnya, itulah waktu yang paling ditunggu-tunggu banyak pelajar, termasuk saya sendiri. Saking senangnya, saya sampai hampir meminum air yang ada di kulkas, padahal sedang puasa. Akhirnya saya urungkan niat untuk meneguk air yang dingin itu (dimuntahkan).
Dan saya pun harus mulai memindahkan barang-barang dari lantai atas ke bawah, dan itu sangat melelahkan, sungguh. Sebagian barang yang telah dikardusi pun memenuhi ruang tamu. Yang ada di kamar hanyalah sebuah kasur, meja kecil untuk menaruh baju, dan tumpukan kardus lainnya. Ini sudah pernah saya alami sebelumnya, 4 kali tepatnya. Tak banyak hal yang bisa dilakukan saat itu kecuali mengemasi barang dan memindahkannya ke ruang tamu, karena tanggal 10 kami sudah harus berada di Semarang, dan itu hanya 2 hari lagi. Hanya dua hari waktu yang tersedia untuk berpisah dengan rumah yang besar ini.
Hari-H telah datang, selamat tinggal rumah lama ! I will miss you ! Kini hanya tersisa seonggok barang yang siap diambil oleh tukang sampah keliling, biasanya sekitar jam 8 sudah diambil, tapi kali ini agak terlambat. Mungkin tukangnya sengaja, jadi saya bisa foto-foto perpisahan dulu (alay). Pak Sular, sang ojek langganan sudah datang. Rencananya beliau akan membantu memindahkan barang ke mobil. Dengan begitu, ikutlah beliau ke Semarang. Beruntung pula, tol Semarang-Bawen sudah bisa digunakan.
Setelah puluhan jam mengatur barang-barang di rumah, akhirnya datang kesempatan untuk mengunjungi sekolah dan tur kota, supaya familiar. Sebenarnya sudah ada beberapa SMP yang didatangi, namun akhirnya yang tersedia untuk saya adalah SMPN 7 dan SMPN 40. Setelah saya cermati baik-baik, akhirnya pilihan jatuh pada SMPN 7. Saya sendiri belum tahu betul kualitasnya, namun saya percaya ini pilihan yang tepat (dan ternyata tepat). Tepat seperti apa ? Lihat saja kelanjutan cerita ini.
Hari pertama sekolah. Dan hanya akan berlangsung selama seminggu karena dipotong libur lebaran (betapa enaknya). Kesan pertama saya di sini, "Sampai kapan di lantai 3 ?". Jujur waktu kelas 7 di lantai 2 saja bawaannya sudah malas naik turun, kantin sekalipun tak begitu menggoda, kecuali saat olahraga tentunya. Kembali ke masa depan, saya mendapat kelas paling akhir, 8G. Saya hadapi, inilah resiko murid pindahan (beruntung tak dapat absen paling buncit). Akhirnya Allah Yang Maha Pemurah memindahkan kelas saya ke lantai 2 (sujud syukur).
Agustus 2014
Namanya juga murid baru, murid-murid lain penasaran. Jadilah tiba-tiba banyak yang menyapa, walaupun saya sendiri bingung, "Ini siapa ?". Namun ujung-ujungnya kenal kok (teman sekelas doang). Tak berselang lama munculah para pejuang baru, mereka adalah guru PPL yang KATANYA ditunggu-tunggu murid di sini. Mereka bagaikan pelipur lara para murid, yang hanya bisa ditandingi oleh jam kosong. Meskipun terkesan dramatis, kira-kira itulah gambaran yang tepat untuk guru PPL dari sudut pandang murid-murid (entah benar entah tidak).
Meskipun sebagian besar dari mereka megajar kelas 7, kelas 8 pun tak luput dari serbuan guru PPL. Apa pendapat saya tentang ini ? "Biasa saja," kata-kata Mario sang sahabat lama masih terngiang di kepala. Tetapi sungguh tak disangka, melalui peran guru PPL ini pula kehidupan di sekolah berubah untuk selamanya. Setidaknya untuk saya.
Melanjutkan kerja saya yang terhenti karena pindahan, saya bertekad mengikuti seleksi OSIS masa jabatan 2014/2015. Tes tertulis sudah dilewati. Kini saatnya sesi wawancara. Pertanyaan demi pertanyaan saya jawab dengan lancar. Jabatan apa yang saya inginkan ? Sekretaris rasanya sudah cukup bagi saya untuk saat itu. Namun Allah berkehendak lain.
September 2014
Tak pernah disangka, saya dicalonkan menjadi ketua OSIS. Ya, ketua OSIS. Seorang siswa yang baru saja pindah dari luar kota, yang tidak diketahui kemampuannya dicalonkan menjadi ketua OSIS. Saya yang saat itu sedang makan jajan di kelas kaget sekaget-kagetnya, seakan duren eh, dunia akan runtuh. Dan akhirnya saya menghabiskan jam sekolah tanpa mengatakan sepatah katapun, terdiam dalam kekagetan, alias shock. Tapi itu tidak berlangsung lama. Kepercayaan diri meningkat drastis setelah mendengar motivasi dari guru BK dan PPL yang ternyata ialah yang telah diam-diam mencalonkan saya sebagai kandidat calon ketua OSIS.
Hari Pemilos, Pemilihan Ketua OSIS SMP Negeri 7 Semarang Tahun Ajaran 2014/2015. Kelihatannya panjang, ya. Tapi tenang saja, kertasnya muat kok. Sengaja dibuat besar supaya foto saya yang indah itu bisa terpampang dengan jelas (narsis juga ternyata). Saya tegang, sangat tegang. Bukan hanya tegang, saya juga galau berat. Gimana ini kalau nggak kepilih, gimana ya kalau kepilih ? Satu persatu murid memasukkan kertas suara kedalam kotak suara. Akhirnya tiba saat penghitungan suara (cepat, nggak kayak Pemilu).
*masukkan tabuhan genderang perang disini*
"Akmal, SAH !" sang juru hitung (memang begini namanya) yang berseru lantang membuat suasana menjadi semakin tegang. Terlihat saya sedikit memimpin perolehan suara. "Sial, kenapa bisa banyak ?" itulah yang ada di pikiran saya saat itu. Melihat tanggungjawab yang besar, saya sedikit takut bila nantinya terpilih, dan itu saya rasa wajar. Dan ternyata dua calon lainnya pun wajahnya tegang (saya cowok sendiri). Seperti yang saya takutkan, saya memenangkan Pemilos dengan 471 suara (pasti ada yang jadi timses ilegal, lol). Dengan ini saya hanya tinggal menunggu upacara pelantikan, yang akan dilakukan pada tanggal 10 November 2014.
Januari 2015
Huft, selesailah acara classmeeting yang menjadi acara OSIS pertama dibawah komando saya, yang tidak berjalan dengan maksimal (maklum pemula). Dan event berikutnya yang membuat saya galau adalah acara Maulid Nabi 1436 H (kalau nggak salah). Di sinilah kesungguhan saya dinilai. Mulailah dirancang konsep acara ini. Untuk itu saya meminta bantuan Mas Iqbal, yang memegang jabatan rohis tahun lalu. Setelah rencana dan konsepnya matang, barulah saya mengadakan rapat untuk membahas tentang persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Saya mendapat masukan-masukan penting dari Mas Iqbal, juga dari guru-guru. Semuanya sudah matang, tinggal masalah pembagian tugas. Namun ternyata saya harus mengikuti acara karya wisata pada akhir Januari, jadi rapat terakhir saya tunda hingga minggu berikutnya.
Pembagian tugas sudah beres, tibalah Hari-H. Sambutan untuk pertama kalinya saya berikan kepada warga SMP Negeri 7 Semarang. Menegangkan ? Sedikit, tapi jujur saya lebih khawatir dengan pelaksanaannya ketimbang memberikan sambutan di awal acara. Semuanya berjalan lancar, hingga saya menyadari ada sebuah blunder. Saya lupa untuk meminta penjaga sekolah mengunci setiap kelas agar tidak ada yang malah pacaran di atas. Ternyata dugaan saya tak meleset. Banyak yang saya pergoki berada di lantai atas, ada yang bermain, ada yang pacaran. Ini membuat saya jengkel. Bayangkan saja, acara yang sudah dirancang dengan susah payah ini disia-siakan oleh anak-anak yang tak bertanggungjawab. "Yah, aula sekolah kita memang tak begitu luas, tetapi tolong hargailah kami yang sudah susah payah merancang acara dan mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk acara ini !" kira-kira begitulah kata hati kami, para anggota OSIS yang menyaksikan peristiwa itu.
Segera saya bentuk tim kecil untuk mengajak mereka turun. Sebagian turun setelah diajak, sebagian lagi turun setelah saya suruh dengan paksa. Hmm, memang sebenarnya harus dari kesadaran diri sendiri untuk mengambil hikmah dari Maulid Nabi, tetapi itulah yang bisa saya lakukan dengan kemampuan saya. Beberapa sisanya tetap ngotot untuk berada di kelasnya, entah ada apa dengan mereka (mungkin ada magnet raksasa yang tak terlihat di kelasnya). Ya sudahlah, di ajak mencari ladang pahala malah teguh mencari maksiat, yang penting saya sudah mengajak mereka mencari kebaikan. Secara keseluruhan, acara berlangsung dengan lancar, hanya ada kendala di lantai atas dan beberapa siswa yang malah bermain hp saat sedang berdoa (hp jelas disita dan akan diserahkan ke BK). Saya rasa itu hukuman yang pantas bagi mereka yang bahkan tidak bisa menghormati Tuhannya sendiri.
~Bersambung~


Kerennn, Hebattt. Waww, tegasnyaa minta ampun 😂😂😂. Teruskanlah perjuanganmu di SMAGA 😃😄😄
ReplyDelete