Memasuki bulan Juli, mulai banyak event-event bergengsi yang
hadir di Jakarta. Nah, kali ini saya berkesempatan menghadiri event mengenai
teknologi yang telah diantisipasikan
selama berbulan-bulan lamanya. Apa lagi kalau bukan Tech In Asia Product
Development Conference 2019?! TIA PDC ini sudah berjalan sejak 2017 dan isinya
nggak main-main loh. Di PDC kita bisa mendapatkan segudang ilmu dari pembicara
kelas nasional seperti dari GOJEK, Tokopedia, hingga yang internasional seperti
dari Paypal dan Amazon. Kita juga bisa menjalin komunikasi dengan peserta dan
bahkan speaker tanpa banyak kendala. Oleh sebab itu, banyak deal-deal bisnis
dan rekrutmen yang terjadi selama penyelenggaraan PDC ini.
![]() |
| Sumber : pdc.techinasia.com |
Di PDC edisi 2019, saya termasuk orang beruntung yang dapat
menghadiri event gila ini. Sekadar memberi tahu, PDC’19 dilaksanakan di Menara
Mandiri lantai 9-10, tepat di seberang areal Stadion GBK. Ada beberapa cara
untuk datang ke venuenya mulai dari kendaraan pribadi, Transjakarta, hingga
menggunakan MRT. Karena saya suka yang praktis, ojek online sudah tentu jadi
pilihan hehehe.
Hari Pertama, 3 Juli 2019
Antrean pengunjung di hari pertama ini benar-benar mbludak.
Dari lobby Menara Mandiri saja sudah terlihat kehebohan dan antusiasme para
pengunjung PDC’19. Menunggu giliran lift saja sampai lima menit lebih. Belum
lagi antrean verifikasi tiket yang cukup panjang padahal hanya menunjukkan
barcode dan KTP saja. Well, saya mendapatkan sebuah totebag berisikan denah
venue dan agenda dari 4 stage yang ada. Tidak lupa saya mengambil stiker yang
menunjukkan preferensi bidang seperti Product, Strategy, Business, hingga Data.
Memasuki venue yang tidak terlalu luas jika dibandingkan
dengan JCC atau ICE BSD (yaiyalah), mata saya langsung tertuju pada main stage
yang sedang diisi oleh Albert Lucius, CPO dari OVO yang membawa materi berjudul
“Building Product with Massive Fragmented Variables & Facets”. Sayangnya
main stage begitu penuh sehingga saya menyerah dan memutuskan untuk pindah ke
stage Kapuas. Di sana Gelar Pradipta, Head of Product dan Tri Kurniawan, Senior
UI/UX Designer dari Kata.ai sedang membawakan materi “Using Design Language
System to Improve Product Design Efficiency”.
Singkatnya, Kata.ai menggunakan sebuah sistem terintegrasi
untuk memudahkan designer dalam membuat ataupun merevisi desain dari suatu
produk. Dengan sistem ini, diharapkan perbedaan pendapat dalam hal desain dapat
dikurangi sehingga kinerja tim desain produk dapat menjadi lebih efisien. DLS
sendiri merupakan sistem template desain (visual khususnya) yang dihasilkan
oleh kesepakatan dalam suatu perusahaan dan mudah dimengerti oleh semua orang
dalam perusahaan tersebut. Artikel saya di kemudian hari mungkin akan mengulas
DLS secara lebih mendalam (insyaAllah).
Selanjutnya di stage yang sama saya mendengarkan materi
“User Research for Product-Market Fit: The Science of Human Behaviour” dari
Sakti Nuzan, Product Research Lead GOJEK. Sayangnya karena ilmu saya yang
begitu rendah, materi ini cukup rak mashook akal. Bukan apa-apa, bidang User
& Product Research karakteristiknya jauh berbeda dengan riset laboratorium
yang selama ini saya jalani. Belum lagi jargon yang ndakik-ndakik membuat saya semakin
kesulitan mengolah informasi. Untungnya mas Sakti di akhir acara
merekomendasikan beberapa buku pengantar yang bagus untuk User & Product
Research ini.
Acara diputus oleh break makan siang. Sialnya saya lupa
membawa uang cash, sedangkan saldo GOPAY ngepas sekali untuk pulang ke rumah.
Ya sudah, saya memilih untuk berkeliling di dalam venue dan mengunjungi
beberapa booth sponsor. Damn i'm so hungry.
Ada Nodeflux, startup yang digadang-gadang sebagai startup
pertama di Indonesia yang berfokus pada Computer Vision. Jadi Nodeflux
menggunakan AI untuk mengolah data gambar maupun video, seperti dalam OCR
(Optical Character Recognition). Sebagai contoh, AI ini mampu mengenali dan
membedakan target tertentu misalnya mobil, motor, atau bus sekaligus mencatat
nomor polisinya. Data tersebut kemudian disalurkan ke server dan instansi yang
berkaitan. Nodeflux telah bekerjasama dengan beberapa instansi seperti Jakarta
Smart City, POLRI, BIN, dan perusahaan seperti GOJEK. Keren kan? Woiya dong.
Soalnya ngasih stiker banyak banget.
Di belakangnya, ada booth dari Kata.ai. Startup ini juga
ngembangin AI, tapi fokusnya dalam Chatbot. Iya, yang sering dipake kamu kalau
lagi nggak ada temen chat. Tapi serius, chatbot yang dikembangkan oleh Kata.ai
ini sudah advanced dan cukup luwes dalam berkomunikasi, asal nggak ditanyain
yang aneh-aneh semacam “Mau jadi pacarku gak?” atau “Apa warna kuda putih
Napoleon?”. Kata.ai menawarkan fleksibilitas dan pilihan platform yang beragam
seperti LINE, Whatsapp, FB Messeger, dan Telegram. Mereka juga masih open
rekrutmen, lulusan SMA saja bisa dapet posisi yang lumayan asal punya bakat dan
dedikasi.
Dari stand booth saya berpindah ke area lain. Di ujung venue
(ujung mana sih?) ada semacam area lagi yang berisi Flash Talk, Coworking
Space, Bean Bags Garden, Press Room, Meeting Room, dan tempat makan khusus
sponsor (dan pembicara). Saya tanpa basa-basi langsung mencoba VR yang
disediakan oleh Microsoft di area Coworking. Main apa? Beat Saber lah! Saya mau
menunjukkan keahlian berpedang sekaligus dance yang saya punya (apaan lah main
yang easy mulu).
| Stand VR Microsoft |
Setelah puas bermain VR, saya beranjak ke main stage untuk
mendengarkan cerita dari Achmad Zaky selaku CEO dan Founder Bukalapak dalam “A
Flashback Story: Bukalapak’s Product Journey”. Ini dia pembicara yang saya
tunggu-tunggu. Bang Zaky bercerita dengan penuh penghayatan saat menarasikan
berdirinya Bukalapak pada tahun 2010, zaman purbakala bagi para pemain
e-commerce nasional. Kisah perjuangan Bukalapak dari yang semula begitu
sederhana hingga menjadi sebesar sekarang digambarkan layaknya sebuah epos.
Secara singkat juga diceritakan bagaimana sebenarnya cara Bukalapak “bekerja”
dan “berinovasi”. Materi ditutup dengan lawakan jayus khas Bang Zaky (ampun
bang becanda please).
Selanjutnya, ada “Experimenting in Product Development for
Constant Growth” yang dibawakan mbak cantik Carmen Oprea, VP Growth dari
HappyFresh.com. Mbak Carmen menjelaskan bahwa eksperimen yang berkelanjutan itu
sangat penting bagi perusahaan, khususnya perusahaan yang sangat bergantung
pada teknologi. Jika pada era 90-an perusahaan melakukan satu iterasi/update
setiap beberapa tahun sekali, maka pada tahun 2019 bukan hal yang aneh jika
suatu sistem mengalami ratusan hingga ribuan update per hari. Eksperimentasi
menjadi sangat penting ketika perusahaan menginginkan gebrakan yang mengguncang
pasar dan berkembang dengan sangat pesat. Ah, Mbak Carmen ini bukan cuma cantik
tapi juga cerdas. Love you Mbak! Ehe.
| Mbak Carmen yang sedang menjelaskan materi |
Saya bosan berada di main stage terus-terusan. Nah, materi
di stage Mahakam cukup menarik perhatian saya. Syafri Bahar yang memiliki
posisi sebagai VP of Data Science (jargon yang sedang hot) dari GOJEK
menceritakan “GOJEK’s Journey to Build Scalable Machine Learning System”.
Dahulu kala, GOJEK masih menggunakan call center untuk menghubungkan pelanggan
dengan driver. Benar-benar kuno. Maka ketika GOJEK mengalami booming pada tahun
2015-2016, diperlukan sebuah sistem baru untuk mengatasi lonjakan permintaan.
Mungkin beberapa dari kalian pernah mendengar berita bahwa GOJEK mengakuisisi
perusahaan coding dari Bangalore India? Itu salah satu strategi GOJEK untuk
membangun infrastruktur softwarenya yang baru. Dengan bantuan Machine Learning,
GOJEK dapat memaksimalkan pengalaman pengguna dan driver. Dan tentu saja,
nyaris sebagian dari materi hanya melewati kuping karena saya kekurangan
ilmunya (dasar payah).
Berikutnya dan sebagai penutup materi hari itu, ada Mas Juan
Intan, Head of Data & Analytics dari Jakarta Smart City yang membawakan
“Harmony between Analytics & Product Development: Case Study from Start-up
& Government Perspective”. Mas Juan menjelaskan hubungan antara analisis
data dengan pengembangan produk, yang terkait sangat erat. Sebagai contoh,
sewaktu Traveloka berekspansi ke luar negeri pada 2016 lalu, Traveloka
membutuhkan analisis data pelanggan dan penyedia hotel serta maskapai
penerbangan di Indonesia kemudian mengekstrapolasikannya ke dalam pasar di luar
negeri sebagai benchmark. Diperlukan analisis yang mendalam sebab kondisi pasar
negara tetangga tentu saja berbeda dengan negara kita.
Sedangkan dalam kasus Jakarta Smart City, analisis data
diperlukan untuk membangun sebuah produk layanan terintergrasi layaknya sebuah
“Super Apps” yang bisa memudahkan masyarakat dalam berinteraksi dengan
pemerintah, sesuai dengan visi “Perkotaan 4.0” (aplikasi ini masih dikembangkan
dan dirahasiakan). Dalam model ini masyarakat diajak untuk berperan sebagai
kontributor dalam pembangunan. Kalau kalian pernah mendengar Qlue sebagai
perantara kritik warga Jakarta, maka aplikasi baru ini merupakan tahapan lebih
lanjut dari aplikasi tersebut. Untuk memasok kebutuhan akan analisis data
tersebut, Jakarta Smart City juga sedang menyiapkan seabrek sumber data yang baru
seperti perangkat CCTV dan sensor-sensor canggih di seluruh wilayah Jakarta.
Sekian untuk hari pertama PDC’19, selanjutnya saya ceritakan
pelaksanaan di hari kedua.
Hari Kedua, 4 Juli 2019
| Nggak serame hari pertama |
Syukurlah di hari kedua ini, antrean lift pengunjung tidak sepadat antrean di hari pertama. Begitupula dengan antrean memasuki venue, tidak diperlukan lagi karena saya sudah membawa ID card yang diberikan pada hari pertama (kebijakan yang tepat dari panitia, saya suka!). Tanpa basa-basi, saya langsung menuju stage Kapuas.
Di stage Kapuas, Imron Zuhri selaku CTO dan Founder dari
HARA membawakan “Building Decentralized Data Exchange for Agriculture with
Blockchain”. Pertama-tama, Pak Imron menjelaskan permasalahan pelik mengenai
ketersediaan dan kualitas data pertanian yang ada di Indonesia. Bayangkan saja,
bahkan antar lembaga pemerintahan saja terdapat perbedaan data statistik yang
cukup signifikan. Belum jika bicara mengenai data yang lebih detail seperti
catatan panen setiap individu petani atau yield panen setiap lahan. Diharapkan
dengan menggunakan teknologi Blockchain, permasalahan data ini bisa
diselesaikan tanpa ada yang memonopolinya (berterima kasihlah pada sifat dasar
blockchain).
Saya kemudian beranjak menuju stage Barito untuk mendengarkan
Vinh Soon Ta, Analytics Lead dari Grab yang memberikan ilmu mengenai “Creating
Data Visualization That Everyone Can Read”. Visualisasi data menjadi penting karena otak
manusia tidak dirancang untuk memerhatikan tabel penuh simbol matematika dan
angka, melainkan bentuk bentuk natural atau sederhana. Sebagai contohnya,
tragedi Challenger bisa dicegah bila para teknisinya dapat melihat grafik
jumlah kegagalan O-ring terhadap temperatur tempat peluncuran, bukannya tabel
penuh angka yang sulit diinterpretasikan. Karena itulah, Grab melakukan
investasi yang cukup besar dalam hal visualisasi data untuk memudahkan
koordinasi antar bagian dan meningkatkan efisiensi kinerja karyawannya.
Sesi kedua ini diakhiri dengan break makan siang. Untungnya
jeda break ini cukup panjang, jadi saya bisa mencari makan di luar venue
sembari mengambil foto di sekitar GBK (jarang-jarang saya main ke daerah sini). Cukup menyenangkan hati melihat trotoar dan jembatan penyeberangan yang tergolong SANGAT layak (andai Semarang seperti ini).Sekitar pukul 13.00 saya kembali ke venue untuk melihat main stage.
Materi mengenai Product Roadmap adalah salah satu materi
yang paling saya tunggu-tunggu di hari kedua. Sudah pasti saya harus
mendengarkan “Building a Product Roadmap that Everyone Understand” yang
dibawakan Hadikusuma Wahab, VP of Product dari Vidio. Product Roadmap merupakan
sebuah alat bantu untuk memudahkan tim pengembangan produk dalam
mengidentifikasi permasalahan, merancang solusi, serta membantu penyelesaian
solusi sesuai dengan linimasa yang telah ditentukan. Masalahnya, kebanyakan tim
yang tak berpengalaman justru semakin kesulitan menghadirkan solusi ketika
memakai alat ini. Oleh sebab itu, diperlukan pelatihan yang cukup dan penerapan
Product Roadmap yang baik dan benar.
Dan sebenarnya masih ada empat materi lagi yang ingin saya
ikuti seperti “Designing and Building Artificial Intelligence Infratructure”
oleh Reyhan Sofian dari Kata.ai, “Product Management 101: The Mindset of
Product Manager” oleh Sabreen Kaur dari Apigate, "Mapping Customer Journey Into Product Marketing Strategy" oleh Ichmeralda Rachman dari GrabFood, dan yang terakhir “Building a
Solid Product Marketing Team for Your Startup” oleh Ika Paramita dari Airy
Rooms. Naasnya, saya terkena penyakit kantuk yang begitu hebat menjelang break
sore. Begitu disayangkan sih untuk meninggalkan empat materi begitu saja. Namun
godaan dari Bean Bags yang terhampar di atas hamparan rumput palsu tidak bisa
saya hilangkan, tak peduli betapa kerasnya saya mencoba (alasan klise, payah).
Ah, penyesalan selalu datang di akhir.
Dengan bangunnya saya pada pukul 17.15, maka berakhir pula
lah rangkaian acara Tech In Asia Product Development Conference 2019. Event ini
memberikan saya banyak sekali hal yang bisa saya ambil sebagai bekal untuk
berkarir di masa depan. Ilmu-ilmu seperti ini tidak mungkin saya dapatkan dari
pembelajaran di kelas-kelas atau mata kuliah manapun. Kesempatan bertemu dan
berbincang dengan beragam orang dari berbagai bidang dan jabatan, bagi saya
merupakan sesuatu yang tidak bisa dicari dengan uang. Serta melihat fakta bahwa
ilmu yang saya miliki sangatlah sedikit, menjadi motivasi yang kuat bagi saya
untuk kembali berkelana mencari ilmu lainnya.
Saya Akmal Agassi, terima kasih telah membaca catatan kecil
ini.

